Pemeran Utama

Pemeran Utama

Hampa. Ketiadaan yang ada. Gelap. Terang. Tidak berwarna. Tidak berada. Melayang-layang. Berjalan. Berlari. Berbentuk yang tidak berwujud. Hanya terdengar nafas yang berat, teratur, pendek dan panjang. Terdengar keras dan kini suara nafas itu mulai menghilang.

Suara nafas itu kembali terdengar. Kali ini, terdengar seperti tersedu sedan, terisak-isak. Terdengar cepat dan pendek. Seperti tersedak. Namun kali ini aku mendengar suara lain yang datang bersama suara yang pertama, suara tangis. Apa yang aku dengar, tidak aku ketahui.

Kini tampaknya aku tidak lagi dalam dimensi ketidakberadaan, karena aku bisa melihat cahaya putih yang menyelimuti ruang. Kemudian aku melayang, seperti ada yang menopangku, menuju ke air yang jernih. Jernih sekali. Aku masih mendengar suara itu. Sesaat kemudian, aku merasa basah. Tenggelam di air yang, tunggu! Kini air itu tidak jernih lagi. Kali ini tampaknya lain. Berwarna kemerahan, dan aku seperti berada di dalamnya. Aku berusaha menggapai apa yang bisa aku gapai, namun tidak ada yang dapat aku raih. Ingin keluar, namun tetap tidak bisa.

Aku tetap mendengar suara tangis itu dan juga suara yang pertama.

Sewaktu kemudian, aku telah meninggalkan air jernih yang kini berwarna kemerahan. Aku kembali berusaha menggapai apa yang bisa aku gapai, apa saja, namun tidak ada yang dapat aku raih. Aku menendang-nendang. Meraih. Namun tidak berhasil. Malahan, kini aku seperti diselimuti kehangatan yang membuatku tidak bisa bergerak lebih banyak. Tanganku, kakiku, mungkin seluruh tubuhku terasa seperti terikat, tidak sakit, namun nyaman dan hangat. Aku mulai tidak bisa mendengar suara tangis itu lagi. Aku hanya bisa mendengar suara nafas yang pendek, terdengar damai. Terasa lain.

Aku lapar, lelah, mengantuk dan akupun tertidur.

….

Aku, yang kamu kenal sebagai aku yang menulis ini, berada di suatu waktu yang lain. Waktu yang jauh ketika terakhir kali aku mendengar suara tangis di ruang putih itu. Aku masih tidak bisa mengingat apa yang terjadi. Seperti mimpi atau memang aku yang tidak bisa mengingat kejadian di waktu itu. Entahlah. Aku tidak mau memikirkannya walau hal itu menggangguku.

Kini aku bertambah besar. Tumbuh bersama ketidaktahuan. Berjalan bersama kehadiran yang tidak ada. Aku di sini, walau mungkin saja aku berada di tempat lain dan di waktu yang lain. Memusingkan. Ketidaktahuanku akan apa yang terjadi membuatku hanya bisa berjalan, menjalani, berlari dan menghidupi. Ketidakpastian di mana aku berada, walau ada yang menyebutnya sebagai rumah, hanya membuatku acuh tak acuh. Berusaha tidak memikirkannya dan hanya menjalaninya.

Ambigu. Seperti mimpi namun nyata. Membayangi.

Sepanjang perjalananku, aku mengenal sebuah makhluk yang disebut manusia. Terdapat sebuah kelompok manusia yang besar. Satu, dua, empat, sepuluh, seratus, seribu, ah, aku tidak bisa menghitungnya. Jumlahnya terlalu banyak. Aku tidak yakin apakah aku seperti mereka. Satu yang aku tahu, aku hidup seperti mereka. Aku merasa lapar, merasa haus, merasakan kesendirian, merasakan seperti manusia. Seperti manusia. Ah, apakah aku bagian dari kelompok itu? Aku tidak tahu.

Aku berjalan melalui waktu-waktu. Melewati masa-masa. Meninggalkan peristiwa-peristiwa di mana aku terlibat dan tidak terlibat di dalamnya. Terlalu banyak yang terjadi. Di waktu aku berada saat ini, dan di ruang lain di waktu yang sama.

Aku merasa seperti terkekang di dalam sebuah raga. Ingin sekali aku berada di lain tempat, namun aku selalu terbangun dengan realita yang sama. Realita? Ah, sepertinya kebingunganku selama ini mulai aku tidak pedulikan. Aku yang tidak tahu apakah ini nyata atau tidak, mulai berpendapat bahwa aku berada dalam sebuah realita. Terbelenggu. Tidak bisa pergi.

Banyak sekali yang aku pelajari dari manusia. Mungkin itu yang mengikis ketidaktahuanku dengan ketidaktahuan yang lain. Membuat sebuah realita yang seperti terjadi. Aku merasakan, walaupun aku sebenarnya ingin menentangnya. Tapi tidak bisa. Terkekang. Tidak bisa lepas.

Aku terus tumbuh bersama semua hal yang aku ketahui sekarang. Tumbuh bersama setiap nilai yang manusia ajarkan kepadaku. Tanpa berusaha menyangkalnya, karena aku memang tidak bisa menyangkalnya. Ketidaktahuan ini sungguh memusingkan bagiku. Maka, aku terima saja semua yang aku ketahui sekarang.

Manusia membicarakan banyak nilai. Membicarakan sebuah kenyataan dalam dunia yang tidak aku mengerti. Kepasrahan untuk menerima tanpa mengkritisi kebenaran dari ketidaktahuan ini. Menelan mentah-mentah sebuah spektrum hitam putih kemudian menjalaninya. Membenarkan ketidaktahuan yang diyakininya, kemudian berusaha menghilangkan sebuah ketidaktahuan yang lain atau berusaha menggantikannya dengan ketidaktahuan yang lain. Apakah memang seperti ini cara kerjanya? Aku tidak tahu. Bahkan aku sempat melakukan hal serupa. Menebarkan ketidaktahuan yang sebenarnya ketika kini aku pikirkan, akupun juga tidak tahu kebenarannya. Atau mungkin itu yang manusia lakukan? Membuat sebuah pembenaran yang bisa dipegangnya kemudian memantaskannya seiring berjalannya waktu-waktu? Entahlah.

KIni aku hanya berusaha menjalani apa yang aku pikir patut untuk aku jalani. Menyebarkan ketidaktahuan lain yang menurutku lebih baik. Menjadi seperti manusia lainnya.

Seperti manusia lain. Ha! Bicara apa aku ini. Bahkan, di dunia inipun aku tidak ubahnya sebuah api kecil yang tertiup angin. Tidak mengetahui kapan api itu padam, atau apakah api itu akan membuat sebuah api besar yang lain. Aku tidak tahu. Bahkan ketika kamu membaca ini, aku masih sebuah api kecil diantara ruang ketidaktahuan. Berusaha menerangi apa yang bisa aku terangi. Apakah kamu akan mempercayainya? Entahlah. Aku hanya sebuah titik. Tidak patut dimengerti, tapi tidak boleh dilupakan. Karena aku, titik, yang sepertinya bisa mengakhiri sebuah kalimat panjang sejak awal mula ketidaktahuanku. Walaupun aku sendiri tidak yakin bahwa aku ada atau bahwa ketidaktahuan ini nyata.

Dan apa yang akan aku tuliskan selanjutnya, terserah jika kamu ingin mengetahuinya, membacanya atau membiarkannya. Lalu mengapa kamu masih membacanya? Aku tidak tahu.

Lisensi Creative Commons

Surat untuk Mantan

Surat untuk Mantan

Catatan: Surat untuk Mantan ini diikutsertakan untuk lomba #SuratuntukRuth novel Bernard Batubara.

Di Waktu dan Tempat,
di saat kamu membacanya.

Dari Aku, pria yang pernah berdiri di samping mu.
Untukmu, yang sekarang berdiri bersama pria lain.

Halo, kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Apa kabar? Aku harap, kamu baik-baik saja di sana. Sudah cukup lama kita tidak berjumpa dan berkirim pesan. Jika aku tidak salah ingat, sudah beberapa tahun sejak pesan terakhir dari mu masuk ke ponsel ku. Hal yang kini aku anggap biasa, karena aku tahu, aku bukan lagi kontak favorit di ponsel mu.

Aku menulis surat ini sambil mengingat ketika pertama aku mengenal mu. Maksud ku, ketika aku pertama kali tahu nama mu. Pertemuan singkat ketika kita dipertemukan di kelompok cerdas cermat yang sama. Entah apa yang membuat ku tertarik pada mu, saat itu. Mengutip judul lagu Andra & The Backbone  mungkin dulu kamu adalah wanita “sempurna” dari sudut pandang ku.

Surat ini aku tulis bukan untuk mengenang hubungan kita dulu, tapi hanya sebagai pengingat jika dulu kita pernah berjalan bergadengan tangan. Memang, dulu untaian tali kasih kita tidak selalu indah. Aku ingat ketika kita terpisah oleh genangan air yang disebut lautan, karena kamu harus melanjutkan pendidikan mu di seberang sana. Aku juga ingat, ketika kita terhubung hanya oleh saluran telepon yang berbalut rindu dan dibatasi pulsa SMS serta jadwal asrama mu. Hal yang cukup berat untuk aku yang baru mengenal “cinta”. Ah, aku lupa, apakah aku sudah pernah bilang kalau kamu adalah pacar pertama ku?

Bagi ku, saat itu adalah saat-saat yang sangat indah. Aku seakan menemukan sesuatu yang hilang yang membuatku menjadi manusia yang lengkap. Entah apakah kamu merasakan hal yang sama. Aku hanya berharap seperti itu.

Jika mengingat pelayaran kita dulu, aku jadi ingat ketika aku bersama beberapa teman menggubah sebuah lagu. Lagu yang bercerita tentang dirimu yang selalu hadir disetiap angan ku, mengisi ruang yang ada di hati ku. Lagu yang sialnya aku buat ketika kita sudah mengakhiri pelayaran kita. Lagu yang sayangnya, hanya berisi curahan hati dan tidak bisa mengembalikan kita berlayar kembali, bersama.

Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena telah mengirimkan kamu untuk mengajari aku tentang cinta. Hal yang kini membuat ku mengerti arti bersyukur karena ada orang yang mencintai ku.

Bagi ku, cinta adalah bagian dari kehidupan, dan hidup laksana daftar putar lagu yang sedang memutar lagu secara acak. Aku tidak tahu lagu apa yang akan diputar selanjutnya, apakah lagu sedih atau lagu cinta yang bahagia. Itulah mengapa aku selalu berusaha menikmati lagu yang sedang diputar, dulu, bersama mu, ketika kamu duduk di samping ku.

Ketika bersama mu, dulu, seakan setiap lagu yang diputar selalu melantunkan nada-nada yang harmonis, meng-iya-kan sepasang manusia yang terbuai oleh cinta. Tapi aku sadar, sekarang lagu-lagu itu sudah tidak terdengar indah lagi. Aku tidak bisa menikmati lagi petikan-petikan nadanya. Bagaikan orkestra yang tidak memiliki alat musik yang lengkap, masih terdengar indah, tapi bukan yang paling indah.

Bersama surat ini juga, aku ingin menyampaikan terima kasih kepada mu. Terima kasih atas kebersamaan kita, dulu. Terima kasih atas tiap rupiah pulsa yang kamu habiskan untuk membalas setiap SMS-ku. Terima kasih juga untuk semua daya baterai yang kamu habiskan untuk sekadar mendengar suara ku lewat telepon.

Terima kasih atas segalanya. Terima kasih, kamu sudah mau berdiri di sisi ku dan menggenggam tangan ku, memberi arti berbeda dalam perjalanan kehidupan ku. Setidaknya, dulu aku tahu, aku berdiri untuk siapa dan untuk apa. Kini aku hanya berharap, semoga kamu sehat selalu dan semoga kamu sukses mengejar mimpi mu.

Salam,

Aku, yang sekarang tersesat tanpa arah.