Talenta atau Sekadar Bisa?

Talenta atau Sekadar Bisa?

Beberapa waktu lalu, sebuah pesan pribadi masuk ke akun Facebook saya dari seorang kakak kelas ketika SMP. “Mengejutkan”. Selain sudah lama tidak bertukar pesan, kami juga tidak terlalu akrab ketika sekolah. Tapi yang menarik perhatian saya bukan itu. Isi pesannya membuat saya berpikir. “Kembangkan terus talenta yang kamu punya”, kira-kira seperti itu inti pesannya.

(more…)

Terima Kasih Indonesia

Terima Kasih Indonesia

Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Indonesia, tempat saya lahir dan dibesarkan sudah banyak berpengaruh dan mempengaruhi saya dalam pertumbuhan dan perkembangan saya. Dan sudah selayaknya saya juga harus memberikan balasan, walau hanya sekadar tulisan. Tapi setidaknya, melalui tulisan ini saya bisa mengucapkan: Terima kasih Indonesia. 🙂

Tenang, ini bukan mengenai ucapan terima kasih dalam sebuah kalimat penutup dalam sebuah perpisahan. Saya juga tidak berniat untuk “meninggalkan Indonesia“. Tulisan ini saya buat sebagai ungkapan terima kasih (serta beberapa buah pemikiran yang perlu saya sampaikan) kepada tanah merdeka yang menjadi tempat saya bepijak.

Sekali lagi, saya berterima kasih. Terima kasih Indonesia. Tempat saya berlari, tumbuh dan menghirup oksigen. Terima kasih atas setiap hal yang telah kamu beri. Banyak hal yang tidak bisa saya tuliskan satu persatu, namun saya akan mencoba menuliskan beberapa hal yang telah Indonesia berikan kepada saya. Beberapa hal yang yang mempengaruhui pola pikir saya saat ini. Secara garis besar. 🙂

Terima Kasih Indonesia untuk PANCASILA

Saya beruntung dapat lahir di Indonesia dan mengenal Pancasila. Kamu tahu apa itu Pancasila? Sebuah landasan. Pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Ideologi dasar dari negara ini.

Pancasila sendiri tidak sesederhana panca dan sila. Tapi Pancasila memiliki arti yang sangat mendalam. Karena Pancasila mencangkup cita-cita bangsa ini. Sebuah warisan dari para pendiri bangsa, agar Indonesia memiliki sebuah pondasi, pedoman. Sebuah dasar untuk membentuk sebuah negara yang sejahtera. Sebuah pedoman untuk mencapai cita-cita yang luhur.

Maka apa yang akan terjadi jika kita “memilih” untuk melupakan  Pancasila? Pernah membayangkan kita berjalan tanpa dasar dan cita-cita? Jangan sampai kita melupakan Pancasila, atau kita akan berjalan menuju perpecahan.

BHINNEKA TUNGGAL IKA

Sejalan dengan Pancasila, saya juga berterima kasih kepada Indonesia mengenai hal ini. Bhinneka Tunggal Ika, tidak hanya sekadar kalimat dalam sebuah semboyan negara ini. Tapi ini merupakan sebuah ajakan, dorongan, agar kita, sebuah bangsa yang beranekaragam, tetap bersatu, melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa. Bhinneka Tunggal Ika. Beragam, namun kita tetap satu. Berbeda-beda, tapi tetap satu kesatuan. Sebuah bangsa. Sebuah keluarga. Tidak membeda-bedakan.

Ya, karena kamu pun sudah tahu kalau bangsa Indonesia terdiri dari masyarakat yang memiliki berbagai macam latar belakang, dan Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kita, bahwa di kolong langit ini kita tetap sama, bersatu dalam kesatuan sebag.ai sebuah bangsa.

Mulia sekali para pendiri bangsa. Sudah memikirkan sebuah slogan/semboyan pemersatu sebuah bangsa yang beranekaragam. Semoga semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi sebuah kalimat yang teronggok di tumpukan kalimat-kalimat bersejarah dan kemudian terlupakan. Semoga.

BAHASA INDONESIA

Bagian favorit saya. Bahasa Indonesia. Bahasa yang sampai saat ini, masih saya pelajari. Karena, bahasa Indonesia adalah bahasa yang diwariskan para pendiri bangsa. Tidak hanya sekadar bahasa. Tapi bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu. Sebuah bahasa perlawanan. Sebuah bahasa yang bermimpi.

Dan memang, bahasa Indonesia banyak mempengaruhi saya dalam melihat diri sendiri, bangsa ini, dan dunia. Mempengaruhi konsep berpikir dan perilaku. Sebuah bahasa yang sebenarnya sangat keren walau nasibnya kini harus berakhir sebagai anak tiri di negeri sendiri. Seharusnya kita dapat berbangga karena kita dapat memilki dan menggunakan bahasa nasionalnya sendiri.

Psst, tahukah kamu berapa negara yang memiliki dan menggunakan bahasa nasionalnya sendiri?

Perang adalah apa yang terjadi ketika adanya kegagalan (ber)bahasa.

Margaret Atwood

Mengapa ini menjadi kesenangan tersendiri bagi saya? Seperti yang saya jelaskan di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu. Ketika bahasa pemersatu itu sudah terlupakan, bukankah akan menjadi mungkin jika tidak akan ada lagi yang namanya Indonesia?

Selain itu, bukankah akan lebih keren jika Indonesia dapat dikenal melalui bahasa nasionalnya, Bahasa Indonesia? Saya bermimpi Indonesia dapat sama seperti Prancis atau Jepang atau Cina dan negara-negara lainnya yang dikenal karena bahasa nasionalnya. Bukankah kita selalu menganggap bahasa-bahasa itu keren dan bersusah payah mempelajarinya? Mengapa kita tidak melakukan hal yang sama kepada bahasa Indonesia? Membuatnya menjadi bahasa yang keren sehingga dapat membuat orang asing bersusah payah mempelajarinya. Tidak hanya sekadar “kebanggaan semu” ketika melihat dan mendengar orang asing mengatakan nasi goreng, bakso, terima kasih dan kata-kata lainnya.

Bukankah bahasa merupakan sebuah identitas? Ketika kita kehilangan identitas, maka siapakah kita yang akan dilihat oleh orang (dan atau negara) lain?

KEBEBASAN BERAGAMA

Saya berterima kasih bahwa Indonesia merupakan negara yang memperbolehkan setiap warga negaranya memeluk sebuah “agama”. Saya sendiri tidak yakin akan “nyaman” tinggal di “Negara Agama”. Bahkan saya tidak yakin dapat membayangkannya.

Namun saya tetap tidak puas dengan hal ini. Ada yang mengganjal. Ya, karena ketika kita hanya berbicara tentang “agama”, maka harus ada sebuah “pengakuan” agar sebuah kepercayaan dapat di sebut sebuah “agama”. Tidak ada kriteria yang jelas untuk menyatakan sebuah kepercayaan adalah agama atau tidak. Dan ini membuat setiap aliran kepercayaan, kepercayaan lokal, dan sebagainya, kurang mendapatkan perlindungan dan hak yang sama dari negara. Hanya sekadar menjadi keberagaman atau kearifan lokal semata.

Yang tertulis dalam UUD memang “hanya” menjamin kebebasan beragama. Tapi hal ini akan menjadi ganjalan ketika kita tidak memiliki kriteria yang jelas untuk mendifinisikan agama.

Pasal 28E (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. (2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Kita sudah sangat nyaman dengan “pengakuan” 6 agama mayoritas yang dipeluk dan dianut masyarakat Indonesia. Sehingga kita lupa dengan pertanyaan: “Memangnya hanya ada 6 agama? Hanya ada 6 kelompok “ber-Tuhan” yang diakui?” Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Hanya akan mendapatkan diskriminasi dan perlakuan yang tidak layak. Ya, “kebebasan beragama”. Karena masih ada orang-orang yang ber-Tuhan tapi tidak “ber-agama” (hanya karena mereka bukan mayoritas yang diakui).

Psst, menurut kamu, Animisme merupakan sebuah agama atau bukan?

BERAKHIR DI SINI

Sekian dulu tulisan panjang saya kali ini. Saya lelah mengetik. 🙂

Sekali lagi saya berterima kasih kepada Indonesia. NKRI memang belum sempurna, masih banyak yang harus dibenahi. Dan itu adalah tugas kita sebagai warga negara untuk ikut serta dalam proses “penyempurnaan“ Indonesia. Tidak hanya sekadar memikirkan kemajuan teknologi dan sepak bola.

Mari kita juga membentuk sebuah dasar yang kuat. Memilih untuk meneruskan cita-cita luhur para pendiri bangsa. Agar negara ini, bangsa ini, tidak goyah termakan waktu. Bukankah sebuah rumah yang kokoh itu memiliki pondasi yang kuat? Dan bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya?

Karena Kita Memilih untuk Melupakan

Karena Kita Memilih untuk Melupakan

Saya teringat kata-kata dari Bung Karno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Melupakan. Melupakan secara tidak sengaja atau melupakan dengan sengaja? Ah, mungkin hanya tidak ingat. Ketika tidak ingat, siapa yang bisa disalahkan? Tapi bagaimana jika memang sengaja untuk melupakan? Ah, tidak baik jika berburuk sangka. Tapi apakah kita memang melupakan? Ataukah kita memilih untuk mengingat sekenanya? Melupakan atau memang kita pura-pura tidak ingat?

(more…)